Jalan Letjend Soeprapto No. 19 Pontianak Kode Pos 78122
0561-734170
perpustakaan@iainptk.ac.id

Resensi Buku “Orang Embau : Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat”

Resensi Buku “Orang Embau : Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat”

  1. Judul Buku : Orang Embau : Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat
  2. Pengarang : Yusriadi dan Hermansyah
  3. No. Panggil : 307.720959832 Yus o
  4. Penerbit : STAIN Pontianak press
  5. Tahun Terbit : 2013
  6. Jumlah Halaman : 227 halaman
  7. ISBN : 979-97063-1-9

Buku berjudul Orang Embau Potret Masyarakat Pedalaman Kalimantan oleh Yusriadi dan Hermasyah diterbitkan oleh STAIN Pontianak press bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation. Buku ini dicetak oleh Romeo Grafika Pontianak, pada cetakan pertama Januari 2013 ini mengkisahkan cerita tentang gambaran Masyarakat Pedalaman Kalimantan, yaitu orang pesisir Sungai Embau. Buku dengan cover orang menaiki perahu di Sungai Embau ini menggambarkan Sungai Embau yang merupakan salah satu sungai terbesar di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Buku ini memiliki makna penting bagi masyarakat yang berasal dari Kapuas Hulu. Sungai Embau ini terbentang melalui lebih dari lima puluh kampung dari tiga kecamatan-Embau, Batu Datu dan Hulu Gurung. Masyarakat dari lebih lima puluh kampung tersebut mayoritas beragama Islam dan berbudaya Melayu. Sedangkan di bagian Selatan dan Utara sungai ini, terdapat orang Iban, Mayan dan Kantuk. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana potret kehidupan orang Islam yang jauh di ceruk pedalaman, tetapi juga mengenai dinamika perubahan-tradisi, bahasa, mitologi, dan bahkan entitasnya. Buku ini menggunakan tulisan deskripsi, yang artinya menggambarkan suatu objek yang mana tulisan ini berusaha memberikan perincian tentang sesuatu.

Buku dengan tebal 229 halaman ini terdiri atas tujuh bagian, yang salah satunya bagian pertama, yaitu Geografi dan Demografi Embau. Pada bagian ini penulis menuliskan tentang geografi Embau, keadaan penduduk dan sejarah Embau. Hal yang dapat dirasakan oleh pembaca pada bagian ini, yaitu pembaca dapat mengetahui lokasi Sungai Embau, gambaran mengenai lingkungan alam, keadaan penduduk dan sejarah Sungai Embau.

Kemudian pada bagian kedua, yaitu Perubahan Identitas Etnik dan Agama, pada bagian pertama, mengenai penduduk dan sejarah orang Embau, telah disinggung sepintas dugaan mengenai asal usul penduduk. Penulis menuliskan bahwa Veth menyebutkan penduduk Embau sebelum menjadi Melayu dengan memeluk agama Islam, mereka adalah orang Dayak. Proses ini telah berlangsung sejak lebih seratus tahun yang lalu. Masuknya agama Islam diidentikkan dengan masuknya Melayu. Oleh karena itu, wajar jika kemudian ada kesan, Islam dan Melayu merupakan sesuatu yang identik bagi setiap pribumi di Kalimantan Barat.

Bagian ketiga, Islamisasi Magi Ulu Kapuas, pada bagian ketiga buku ini membahas tentang islamisasi di Kapuas Hulu. Khususnya berkaitan dengan magi yang berkembang di tengah masyarakat. Berkembangnya Islam secara mengagumkan di negara-negara Asia Tenggara ini berkat peranan dan sumbangan tokoh-tokoh tasawuf dan sufi adalah fakta yang diakui oleh hampir mayoritas peneliti Islam di kawasan ini. Oleh karenanya, baik penulis maupun pembaca dapat menyaksikan, peran mereka dalam penyiaran dakwah Islam di luar negeri yang mereka huni, terutama negeri yang jauh ini, tempat penyiaran Islam berkembang tanpa perang, tetapi atas jasa baik kaum tasawuf maupun sufi yang memiliki sifat memberi tanpa mengharapkan imbalan. Keberhasilan ini terutama ditentukan oleh hubungan mereka dengan masyarakat kecil dan keteladanan yang melambangkan puncak kesalehan dan ketakwaan dengan memberikan pelayanan sosial yang didasarkan pertimbangan kemanusiaan. Dengan demikian, masyarakat menjadi simpati dan akhirnya memilih Islam sebagai agama yang dipeluknya.

Selanjutnya pada bagian keempat ada Dinamika Masyarakat Embau: Studi atas Magi dan Harmoni. Pada bagian ini membahas mengenai bagaimana dinamika masyarakat Embau, dilihat dari perspektif hubungan sosial antar mereka. Salah satu tradisi yang merekam bagaimana dinamika masyarakat Embau adalah magi.  

Kelima, Unsur-Unsur Tasawuf dalam Tradisi Lisan Masyarakat Ulu Kapuas. Penulis menuliskan, bahwa dalam tasawuf sastra telah dipilih sebagai media di dalam menyampaikan pengalaman keruhanian para sufi sejak awal. Terdapat penjelesan tentang pengalaman mereka yang berkenaan dengan makrifat dan persatuan mistik disampaikan dalam bentuk kisah-kisah, perumpamaan dan puisi.  

Keenam, Bahasa di Sungai Embau Menyusuri Deskripsi Se-Abad Lalu. Penulis menuliskan bagaimana varian Embau, dialek Ulu Kapuas, dan ciri fonologi varian Embau.

Kemudian terakhir, yaitu bagian penutup. Penulis meneliti dan menyebutkan, bahwa semakin nyata kepada kita bahwa pandangan selama ini yang menempatkan pedalaman Kalimantan Barat sebagai kawasan yang ditempati orang Dayak mesti ditinggalkan. Orang Embau yang berada ratusan kilometer di pedalaman pulau Kalimantan dikenal sebagai orang Melayu. Jumlah mereka lebih dari 20.000 jiwa, mendiami puluhan buah kampung di sana.

 

Kelebihan :

Buku ini direkomendasikan bagi peneliti maupun orang-orang yang tertarik mempelajari orang pedalaman Kalimantan Barat terutama di tepian Sungai Embau Kabupaten Kapuas Hulu. Buku ini melengkapi informasi  tentang keberadaan penghuni pedalaman Kalimantan. Seperti yang ditulis oleh Prof. James T. Collins, Alam Tamadun Melayu, University Kebangsaan Melayu menyebutkan bahwa, buku ini menyadarkan kita perlunya upaya memahami Alam Melayu seluruhnya, dan dengan buku ini pula segala bentuk buku non fiksi berupa dongeng, dan mitos Masyarakat  Melayu di Kalimantan sudah digantikan dengan hasil penelitian empiris yang intensif seperti yang dihasilkan oleh buku ini.

Kekurangan :

Sayangnya buku ini, tidak terdapat gambar atau potret keadaan alam maupun penduduk Embau di dalam isi buku tersebut, pentingnya gambar dilampirkan adalah guna untuk pembaca lebih meresapi dan merasakan hawa bagaimana kondisi keadaan di Embau sendiri. Juga foto yang terdapat pada cover atau sampul buku ini tidak begitu jelas. Kemudian, terdapat Bahasa Melayu dan Bahasa Arab yang tidak ada terjemahan Bahasa Indonesianya. Terjemahan tersebut bersifat penting, mengingat tidak hanya orang Indonesia saja yang ingin belajar mengenai penduduk pedalaman Kalimantan ini. Namun, peneliti baik itu lokal atau non lokal, dan wisatawan asing juga sebagian besar banyak yang tertarik akan budaya-budaya lokal Indonesia, khususnya Melayu.

 

Karya: Frastia Wati (Program Studi Muamalah IAIN Pontianak)

Sumber Foto: antaranews.com

Editor: Fauziah Mian

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *