Jalan Letjend Soeprapto No. 19 Pontianak Kode Pos 78122
0561-734170
perpustakaan@iainptk.ac.id

Resensi Buku “Kitab Berladang: Potret Islam Hybrid Pada Suku Asli Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat”

Resensi Buku “Kitab Berladang: Potret Islam Hybrid Pada Suku Asli Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat”

  1. Judul Buku :Kitab Berladang : Potret Islam Hybrid Pada Suku Asli Masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat
  2. Pengarang : Faizal Amin
  3. No. Panggil : 2X6.130959832 Ami k
  4. Penerbit : STAIN Pontianak Press
  5. Tahun Terbit : 2013
  6. Jumlah Halaman : 175 halaman
  7. ISBN : 978-602-1202-00-5

“Kitab berladang” apa yang difikirkan ketika membaca kata tersebut? Apakah sebuah buku yang semua isinya memuat tata cara bercocok tanam? Atau buku tradisional yang ditulis masyarakat lokal secara sederhana, menggunakan ejaan lama dengan isi segala hal tentang berladang. Sebenarnya buku berjudul  “Kitab Berladang“ ini adalah sebuah kajian filologis terhadap sebuah manuskrip yang berjudul Petunjuk Isyar-at-Isyarat Berladang yang ditemukan di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Teksnya mendeskripsikan praktik ritual komunitas Dayak Muslim dalam aktivitas berhuma padi. Unsur budaya tradisonal suku asli masyarakat Kapuas Hulu dengan ajaran Islam  telah menghasilkan Islam lokal bernuansa Hybrid.

Penulis tertarik meresensi buku ini karena memuat kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Islam Hybrid di Kalimantan Barat.  Saat ini cukup sulit mencari buku yang berisi penelitian filologi semacam ini, khususnya di Kalimantan Barat. Selain itu, teks manuskrip langka ditampilkan sehingga dapat menjadi referensi untuk mengetahui jejak lapisan Islam lokal pada masyarakat pedalaman Kalimantan Barat pada abad ke-19.

Judul buku ini terdengar tradisional sekaligus kaya akan pengetahuan didukung oleh gambar sampul buku, yakni gambar sebuah ladang yang bernuansa tradisional. Judul buku ini diiringi dengan Potret Islam Hybrid pada Suku Asli Masyarakat Pedalaman  Kalimantan Barat sehingga dari judul tersebut dapat menggambarkan isi buku ini yang cukup kaya akan data ini. 

Berladang pada umumnya digunakan oleh masyarakat untuk mengganti istilah bercocok tanam. Namun dalam buku “ Kitab Berladang”  pengarang mencoba menggali kearifan lokal masyarakat Pedalaman Kalimantan Barat yang merupakan potret masyarakat Islam Hybrid dengan mengkaji sebuah manuskrip yang ditemukan. Masyarakat Hybrid yang dicerminkan dalam buku ini merupakan masyarakat dengan keyakinan Islam Lokal yang bercampur dengan unsur-unsur budaya tradisional suku asli masyarakat Kapuas Hulu.

Buku ini terdiri dari 5 bagian,diantaranya bagian pendahuluan, Kajian Filologi Kitab Berladang, Naskah Kitab Berladang, Kontekstualisasi Kajian Filologi, dan kontekstualisasi kajian kitab berladang (English Version) masing-masing bagian memaparkan dengan jelas apa yang telah dikaji.

Pada bagian 1 pendahuluan, pengarang menceritakan pengalamannya dan kesan pribadi meneliti hingga akhirnya bertemu dengan naskah manuskrip tersebut.  Beliau juga memaparkan secara rinci lokasi penelitian, temuan,  keadaan masyarakat, serta latar belakang penelitiannya.

Pada bagian kedua, pengarang mengkaji kitab berladang menggunakan pendekatan filologi. Ternyata, naskah ini tidak hanya membahas persoalan berladang, namun juga pesoalan lainnya. Contohnya saja pada halaman 1 berisi teks tawar atau mantra, halaman 2-10 membahas tentang isyarat berladang,  halaman 10-11 membahas tentang cara memlih tanah dan membangun rumah, halaman 11-24 berisi teks tentang obat, azimat,tawar,dan timang-timang, dan halaman 25-26 kembali membahas tentang Isyarat berladang.

Selanjutnya di halaman 19-54, pengarang mengritik teks dalam naskah kitab berladang kemudian melakukan penambahan, pengurangan,dan penggantian terhadap kata/ kalimat yang kurang konsisten dari kaidah-kaidah bahasa yang mutlak diyakini kebenarannya. Namun hal tersebut pengarang catat dalam catatan kaki sehingga pembaca dapat tetap mengetahui karakter asli dari teks, atau bahkan dapat menilai sejauhmana perubahan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Pada bagian ini, pengarang dengan cermat memberikan keterangan terhadap kata-kata yang masih belum jelas. Pengarang juga menyunting teks dan memberi transkripsi dengan menambahkan beberapa prinsip yang digunakan dalam suntingan. Gambar-gambar penting yang merupakan ilustrasi naskah dipindai oleh pengarang sehingga lebih jelas dan lebih terasa kritik manuskripnya.

Dari halaman 56-82, pengarang memindai semua isi dari kitab berladang yang seluruhnya berhuruf Arab Jawi, ini menjadi bukti penelitian sekaligus  memberikan pengetahuan akan naskah asli yang masih orisinil. Jangan khawatir bagi mereka yang tertarik dengan kitab berladang, namun belum mengerti bahasa Indonesia, karena buku yang sangat kaya ini ternyata memiliki versi bahasa Inggris pada bagian akhir sehingga dapat dicerna oleh beragam latar bangsa.

Buku ini sangat menarik dan informatif. Bahasa yang mudah dimengerti membuat buku ini dapat dinikmati oleh semua kalangan terutama kalangan akademisi pecinta kajian filologi dan kajian keislaman lokal di Indonesia. Selain itu, buku ini juga menampilkan karya yang orisinil dengan analisis yang cermat dan kritis. Intinya, buku ini sangat direkomendasikan terutama bagi akademisi yang ingin menggali kearifan lokal di Kalimantan Barat.

 

Karya Mita Hairani (Manajemen Dakwah IAIN Pontianak)

Sumber Gambar: kalimantanreview.com

Editor Fauziah Mian

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *